Tuesday, February 11, 2020

Gender Responsive Pedagogy di Benua Afrika. Catatan Pengalaman (Bagian 1)


PPPPTK Bahasa – Jakarta. Pada 15 September 2016 s.d. 1 September 2019 saya memperoleh amanah dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk melaksanakan tugas seconded expert yang ditugaskan di  UNESCO International Institute for Capacity Building in Africa (UNESCO IICBA) di Addis Ababa, Ethiopia, pada Gender Responsive Pedagogy (GRP).
Pemerintah Republik Indonesia sebagai salah satu anggota UNESCO berusaha memberikan dukungan terbaik terhadap pencapaian misi UNESCO. Salah satu dukungannya (melalui Kemendikbud) adalah penugasan satu orang “seconded expert” ke  UNESCO International Institute for Capacity Building in Africa (UNESCO IICBA) di Addis Ababa, Ethiopia. Melalui bantuan penugasan seconded expert tersebut, Pemerintah Republik Indonesia khususnya Kemendikbud mengharapkan jalinan kerjasama yang makin kuat tidak hanya dengan UNESCO melainkan juga dengan negara- negara anggota UNESCO, khususnya di benua Afrika yang menjadi salah satu prioritas misi UNESCO.  Untuk itulah, masa periode penugasan 15 September 2016 sampai dengan 1 September 2019, saya mendapatkan amanah untuk melaksanakan penugasan ini sehingga dibebastugaskan sementara dari jabatan sebagai widyaiswara di PPPPTK Bahasa, Kemendikbud.
Salah satu pengalaman yang berkesan bagi saya adalah ketika berkontribusi aktif dalam Proyek GRP. Proyek ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa meskipun kesenjangan gender hampir dieliminasi dalam pendidikan dasar dalam beberapa tahun terakhir, kesenjangan gender masih sangat mengakar di banyak negara Afrika dalam hal akses pendidikan, lingkungan belajar, tingkat kelengkapan sekolah dan hasil belajar saat menuju jenjang pendidikan atas. Diskriminasi semakin parah di daerah-daerah pinggiran,  termasuk daerah konflik dan pasca konflik, di mana sumber daya pendidikan yang terbatas tidak merata dengan kondisi lebih mengutamakan laki-laki. Ada perbedaan gender dan geografis yang signifikan dalam pencapaian hasil belajar siswa baik di jenjang sekolah dasar dan menengah.  Oleh karena itu, untuk mengatasi kesenjangan tersebut, perlu adanya tindakan yang ditempuh melalui mengajarkan nilai-nilai kesetaraan yang ditransmisikan melalui buku teks dan pendekatan pedagogis yang digunakan di kelas. GRP memastikan bahwa anak perempuan dan laki-laki dihargai dalam keunikan mereka.
Pengalaman yang saya peroleh dari kegiatan–kegiatan di proyek ini sangat beraneka ragam. Proyek ini diawali dengan dari koordinasi dengan lembaga donor, yaitu UNICEF WCARO (UNICEF West and Central Africa Regional Office) dan lembaga-lembaga internasional lainnya yang memberikan kontribusi  terhadap modul GRP sebelumnya. Secara keseluruhan proyek ini merupakan kerjasama pihak UNESCO IICBA, UNICEF serta FAWE (Forum of African Women Educationalist). Saya pun terlibat dalam persiapan dan proses perekrutan konsultan yang akan melakukan pembaharuan modul.  Perusahaan konsultan yang terpilih untuk melakukan pembaharuan modul adalah Creative Art Institute (CAI). Demikian juga pada proses pembaharuan modul, ikut berkontribusi mereview draf modul serta menghadiri proses validasi modul yang diselenggarakan dan dibiayai oleh UNICEF  ESARO (East and Southern Africa Regional Office)  di Nairobi, Kenya. Akhir dari keseluruhan kegiatan proyek ini adalah Training of Trainers (TOT) penggunaan modul GRP yang dilakukan di Lilongwe, Malawi, yang diikuti oleh peserta yang merupakan tenaga pendidikan perwakilan dari negara Ethiopia, Kenya, Uganda, Rwanda, Tanzania, Malawi, Ghana, Zambia, Liberia . Pada kegiatan ini pun saya ikut berpartisipasi.



Bila ingin lebih mengenal dengan lengkap mengenai modul Gender Responsive Pedagogy untuk kawasan benua Afrika, sila unduh pada tautan berikut:  GRP Handbook